Bika si Mariana, Pasar Ateh, dan Istana Pagaruyung

Wisata Kuliner Sumatera Barat

Di Sawahlunto, Sumatera Barat, setiap tahun berlangsung prosesi yang disebut makan bajamba. Makan bajamba adalah tradisi makan yang dilakukan masyarakat Minangkabau dengan cara duduk bersama-sama di dalam suatu ruangan atau tempat yang telah ditentukan.

Di sawahlunto, acara ini biasanya digelar oleh pemerintah daerah setempat pada setiap bulan Desember, di sebuah tenda yang besar, di tengah-tengah kota. Acara ini biasanya berlangsung meriah dan dihadiri oleh seluruh masyarakat di sana.

DSC_0918small
Suasana Pasar Atas Bukittinggi

Untuk menuju Sawahlunto, perjalanan dari Jakarta harus diawali dengan naik pesawat menuju Padang. Iya betul … untuk menuju Sawahlunto kita hanya bisa naik pesawat sampai di Padang lalu dilanjutkan dengan perjalanan darat selama kurang lebih 2 jam.

Tapi jangan khawatir, perjalanan dari Padang menuju Sawahlunto ternyata cukup menyenangkan, kami sempat menemukan beberapa macam kuliner tradisional yang maknyuss (mengikuti istilah Pak Bondan), tentunya sambil memandangi air terjun Lembah Anai, indahnya Ngarai Sianok, dan cantiknya Istana Pagaruyung.

Setibanya di bandara Padang, perjalanan darat pun dimulai. Namun sebelum berangkat, kami singgah sebentar di sebuah kedai yang menyediakan aneka sarapan khas Minang. Nama kedainya Mak Apuak, kedai ini tak hanya menyediakan sate tapi juga lontong pical, ketupat dengan gulai pakis, dll.

DSC_0890small

DSC_0886small
Lontong pical dan ketupat dengan gulai pakis

Menikmati sarapan ketupat dengan gulai pakis, pical, dan sate padang yang nikmat dan tentunya otentik, sungguh menyenangkan.

Sate Padang asli

DSC_0894small

bakwan jagung dan cemilan dari singkong yang kami temukan di sepanjang jalan.
cemilan dari singkong dan bakwan jagung yang kami temukan di sepanjang perjalanan.

Selanjutnya, mobil melewati sate padang Mak Syukur di Padang Panjang. Sate ini sudah sangat terkenal enaknya dan memiliki cabang di Jakarta.  Jadi jika tiba di Padang dalam kondisi tak terlampau lapar, bisa juga menikmati sarapan di Mak Syukur ini.

Belum begitu lama berjalan, kami terpana melihat sebuah air terjun di pinggir jalan. Biasanya orang harus naik gunung dulu untuk melihat air terjun. rupanya itulah Air Terjun Lembah Anai. Tempat yang sangat cocok untuk selfie dan foto narsis.

Air Terjun Lembah Anai
Air Terjun Lembah Anai Sumatera Barat

Perhentian selanjutnya adalah Bika si Mariana di Padang Panjang. Jangan bandingkan dengan kue bika ambon  karena keduanya Jelas berbeda.

Adonan Bika yang ini terbuat dari campuran tepung beras, kelapa parut, dan gula yang dibentuk bulat pipih, mirip apem tapi teksturnya lebih keras, lalu dipanggang dalam tungku yang bagian atasnya juga diberi bara api. Rasanya enak, manis dan gurih.

'oven' jadul tempat memanggang bika dapat dilihat pembeli sehingga menjadi daya tarik tersendiri.
Oven Jadul Tempat Memanggang Bika

Sambil menikmati Bika hangat, kami duduk sambil melihat bagaimana bika dimasak dengan oven tradisional dengan api yang terus dijaga agar tetap menyala.

Asap yang memenuhi bagian atas oven seolah ingin menarik ingatan kami kembali ke masa lalu, di mana kue dimasak dengan baik, menggunakan bahan yang berkualitas, tanpa banyak bahan tambahan makanan seperti di jaman ini.

Sejenak pandangan kami terpaku di sana, lalu kembali kami sibuk memotret dan mewawancarai si pedagang, sebelum melanjutkan perjalanan.

Begini penampakan Bika Si Mariana
Begini penampakan Bika Si Mariana

Saat tiba jam makan siang, perjalanan kami sampai di Pasar Atas Bukit Tinggi yang tersohor itu. Di sana kami menemukan pisang kapik, yaitu pisang kepok yang dibakar lalu dipenyet dan diberi unti. Enak dimakan hangat.

Ada pula dadih, yaitu yoghurt dari susu kerbau dalam wadah bambu yang biasa dinikmati dengan ampiang, yaitu emping dari ketan. Kami pun menemukan getuk yang diberi gula merah seperti di Jawa Tengah. Begitu juga aneka makanan kering yang menarik untuk oleh-oleh seperti dendeng, ikan bilih kering, ikan bilih asap, belut kering, dll.

DSC_0921small
pisang kapik, yaitu pisang dipanggang dan ditipiskan lalu diberi unti
Ini dia dadihnya
Ini dia dadihnya
getuk versi padang: menggunakan gula merah dan ditaburi kelapa parut
getuk versi padang: menggunakan gula merah dan ditaburi kelapa parut

Untuk makan siang, kami putuskan mengunjungi warung makan Uni Lis di los lambuang, yang membuat penasaran karena sering dilibut media cetak. Beruntung, ternyata warungnya masih buka walau dagangannya sudah tak lengkap.

Uni Lies tampak sibuk melayani pembeli
Uni Lies tampak sibuk melayani pembeli

Kami pun memesan nasi, gulai kapau dengan lauk rendang ayam atau bebek dan makan dengan penuh semangat, ketika tiba-tiba menyadari betapa berbeda nasi kapau ini dengan yang biasa kami nikmati di Jakarta. Tak ada tendangan rasa pedas yang kuat, yang jelas terasa hanyalah asin dan gurih karena bumbu yang pekat.

Tapi tak mengapa, setidaknya rasa penasaran kami sudah terpuaskan. Porsi makanan yang besar membuat kami sulit memakannya makan sampai habis. Puas melihat-lihat pasar, kami keluar dan membuat foto bersama dengan background jam gadang.

Nasi Kapau Uni Lies
Nasi Kapau Uni Lies

Perjalanan pun berlanjut melewati …..Ngarai Sianok yang indah.  Ngarai ini letaknya memang dekat dengan Pasar Ateh. Di situ ada rumah makan yang terkenal dengan masakan itiknya, yaitu gulai Itiak lado mudo. Nama rumah makannya Lansano Jaya.

Akhirnya, perjalanan sampai di Istana Pagaruyung di Kabupaten Tanah Datar. Dari luar sudah nampak keindahannya. Begitu melihat ke dalam, ternyata lebih indah lagi. Baru sekali ini saya melihat dan memasuki rumah gadang.

Kabarnya istana ini dulunya adalah tempat tinggal raja. Setelah sempat mengalami kebakaran, kini dijadikan cagar budaya. Informasi bagi wisatawan, di situ tersedia pakaian adat minang yang bisa disewa untuk keperluan foto-foto, baik pakaian adat biasa maupun pakaian pengantin. Kami hanya sebentar berada di sini.

Begini bagian dalam istana Pagaruyung
Begini bagian dalam istana Pagaruyung

Sekitar jam 9 Malam, barulah perjalanan berakhir di Sawahlunto, menuju hostel yang telah dipesan. Kejutan manisnya, saat akan pergi makan malam, ternyata sedang ada konser musik internasional. Maka kami pun makan malam sambil mendengarkan konser. Sungguh malam yang indah (IN).

Ini dia Hostel Oma, tempat kami menginap selama di Sawah Lunto. Lumayan kan?
Hostel Oma, salah satu penginapan di Sawah Lunto.

 

Ini bagian dalamnya ... sayang tak sempat memotret nasi goreng lezat masakan Oma. Janjinya Oma akan mengajari memasak rendang kalau kami datang lagi.
Bagian dalam Hostel Oma, lumayan rapi dan nyaman

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *