Categories
wisata

Kearifan Lokal di Desa Wisata Lengkong, Wates Jaya, Bogor

“Ingat baik-baik ya teman-teman … nanti kalau ada yang lapar selama trekking, tolong kasih tahu yaa… jadi kita akan berhenti dulu untuk makan … jangan sekali-kali makan sambil berjalan,” begitu bunyi briefing yang disampaikan oleh Ketua Desa Wisata Lengkong dengan serius.

Sore itu, rombongan mahasiswa Prodi Hospar Institut Stiami Jakarta yang sedang magang akan melakukan trekking menuju lokasi air terjun dan camping ground di hutan cemara. Tujuannya diantaranya adalah untuk melakukan survey lokasi dalam rangka pengemasan paket wisata.

sapta pesona
Selfie dulu dekat slogan Sapta Pesona yang ingin diwujudkan warga kampung Lengkong, Kabupaten Bogor.

Saya jadi memasang kuping baik-baik mendengarnya. Memang makan sambil berjalan itu tidak baik, tapi apa istimewanya coba? Kenapa  sampai harus disampaikan seserius itu larangannya?

“Ketika nanti kita masak untuk membuat makan di lokasi, jangan dicicipi saat masih berada di dalam panci, wajan, atau ketel. Bumbui saja seperlunya lalu kita makan apa adanya,” sambungnya.

Tempat camping dan tubing
Tempat baru untuk camping dan tubing yang sedang disiapkan untuk dibuka guna memudahkan wisatawan. Letaknya tidak jauh dari tempat parkir mobil.

Nah kan? makin aneh aja. Masa mencicipi masakan yang masih berada di dalam panci atau penggorengan saja tidak boleh? Apa enaknya makan masakan yang kurang asin atau bahkan keasinan?

“Lalu nanti saat kita akan makan bersama, jangan ada yang komentar waah … kita makan pakai ikan atau apapun … tolong jangan sebut apapun tentang makanannya … nikmati saja apapun yang tersedia dan jangan berkata apa-apa.” katanya lagi.

warga kampung lengkong bersama mahasiswa Stiami Jakarta bergotong royong membersihkan sampah
Mahasiswa Hospar Stiami Jakarta ikut bergotong royong membersihkan sampah bersama warga Desa Lengkong. Karena melewati jalanan dengan turunan dan tanjakan tinggi, mereka tidak bermasker.

Mereka memang membawa beras untuk dimasak di camping ground dan sudah berencana menangkap ikan yang banyak terdapat di sungai untuk dimasak sebagai teman nasi. Tapi rupanya tidak boleh disebut.

“Memangnya kalau dilanggar kenapa? Tanya saya tanpa bisa lagi menahan diri. “Kalau pantangannya dilanggar nanti hujan turun Buu…”, jawabnya. Hahahaha … jadi akibatnya bakal turun hujan?

Tapiii … namanya juga trekking dan camping, nggak enak juga kan kalau betul-betul kehujanan hanya karena melanggar pantangan? Baiklah … nurut aja deh daripada kehujanan … Ye kan?

Foto bersama sehabis pelatihan di sekolah
Foto bersama sehabis melakukan pelatihan di sekolah

Hanya menahan diri tidak makan sambil berjalan, tidak mencicipi makanan dari tempat memasak, dan tidak berkomentar apapun melihat makanan, mestinya mudah saja asalkan mampu menahan diri.

Yah … itung-itung melatih diri menguatkan batin sekaligus belajar menghargai kearifan lokal walau bagi kami terasa absurd.

Foto bersama staf Desa Wates Jaya
Sebelum ke lapangan, dosen dan mahasiswa Stiami Jakarta berfoto bersama staf kantor Desa Wates Jaya

Ini adalah untuk yang kesekian kalinya kami tim Dosen dan Mahasiswa dari Prodi Hospar Stiami Jakarta datang ke Desa Wates Jaya dalam rangka pendampingan desa wisata. Sejak awal kedatangan, kami juga sudah mendengar sepintas kearifan lokal itu.

Hari ini, saat mahasiswa akan trekking barulah kami benar-benar mendengarkan semua kearifan lokalnya secara resmi. Meski dalam hati bertanya-tanya karena merasa penasaran, tapi kami memilih untuk diam dan menerima.

Sebelumnya kami juga sudah bertanya mengapa demikian, namun tidak mendapat jawaban yang memuaskan.  Sepertinya masih banyak misteri yang melingkupi desa di hulu sungai Cisadane ini, tapi kami yakin suatu saat nanti misterinya akan terbuka juga.

pelatihan kuliner ibu-ibu desa wates jaya
Pelatihan mengemas makanan bagi Ibu-Ibu yang akan membuka usaha pembuatan makanan oleh-oleh untuk wisatawan.

Sedikit bercerita, program pendampingan desa wisata ini adalah salah satu program yang dikembangkan kemenparekraf untuk mempercepat laju perekonomian sektor pariwisata di pedesaan.

Upaya mengembangkan desa wisata ini diharapkan dapat membantu membangun ekonomi kerakyatan dan menciptakan ketahanan nasional melalui desa yang mandiri.

Pelatihan mengelola homestay bagi warga yang mau menyewakan kamar bagi wisatawan.

Program ini merupakan kerjasama antara Kemenparekraf, Kemendes PDTT, dan Perguruan Tinggi, dimana salah satu perguruan tinggi yang ikut serta di sini adalah Institut Stiami.

Sebelumnya saya lebih dahulu mengikuti TOT (Train of Trainer) yang diselenggarakan Kemenparekraf di Hotel Ashley Jakarta pada tanggal 17-19 Juli 2020 bersama seorang teman.

praktek merapikan tempat tidur
Praktek cara merapikan tempat tidur untuk pengelola homestay di desa Wates Jaya, Kabupaten Bogor

Setelah itu, barulah ikut turun ke lapangan bersama dosen-dosen lain yang juga sudah pernah mengikuti TOT atau mendapat training yang sama di kampus.

Bagi kami, kegiatan ini adalah implementasi salah satu dari Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat. Selain Institut Stiami, telah banyak Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia yang juga mengikuti program ini.

Pelatihan pengolahan sampah
Pelatihan pengolahan sampah

Selama beberapa kali turun ke lapangan, sudah ada beberapa pelatihan yang telah diselenggarakan, mulai dari kuliner, homestay, pengolahan sampah, hingga digital marketing dan media sosial.

Masyarakat pun merespon positif sehingga menguatkan semangat kami dalam berkarya. Memang ada suara-suara sumbang yang meragukan kami karena mereka pernah mengalami trauma, mendapat pembinaan lalu ditinggalkan begitu saja tanpa ada hasilnya.

praktek membuat kompos
Praktek membuat kompos

Kami memang tak mampu menjanjikan apa pun. Hanya waktu yang bisa membuktikan kesungguhan pengabdian kami.

KKN rasa piknik
Astagaa … KKN macam apa iniih? Ini mah foto piknik … ahaha … tapi kapan lagi ya mereka bisa menikmati makan nasi liwet bareng-bareng di alam terbuka seperti ini?

Harapan kami hanyalah semoga ilmu yang kami share di sini bermanfaat bagi warga desa Lengkong. Karena kami juga ingin melihat desa ini berubah wajahnya, menjadi desa wisata yang betul-betul mewujudkan sapta pesona, maju dan sejahtera. Aamiiin. IN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *