Kuliner Jadul di Pasar Sapi Lama Salatiga

Pasar Sapi Lama Salatiga dulunya adalah pasar hewan yang menjual sapi. Lama-kelamaan, tempat menjual sapinya pindah, dan pasar ini berubah fungsi menjadi pasar biasa yang menjual sayuran, aneka kebutuhan pokok, dan keperluan sehari-hari lainnya.
 
Namanya pun  berubah menjadi Pasar Rejosari. Meski begitu, sampai sekarang pasar ini tetap saja lebih dikenal sebagai Pasar Sapi Lama.
 
Kompleks Pasar Sapi Lama Salatiga menempati lokasi yang strategis, karena  terletak di Jl. Veteran dan Jl. Hasanudin, yang merupakan jalur lintas Semarang-Solo dan arah Kopeng-Magelang. Di situ lewat bis Semarang-Solo dan Salatiga-Magelang.
 
Dengan posisi seperti itu, pasar ini jadi mudah dicapai oleh pengunjung dari arah Semarang, Solo, maupun Magelang.
 
Meskipun konsepnya pasar tradisional, tapi awalnya pasar yang dibangun tahun 1980 ini kondisinya lumayan bagus. Sayangnya pada tahun 2008 silam pasar mengalami kebakaran, dan sampai sekarang belum dibangun kembali.
 
Nampaknya pembangunannya juga bermasalah, hingga tahun 2017 ini, pasar masih ditutup rapat tapi tak kunjung dibangun. Namun begitu, pasar ini tak kehilangan daya tariknya. Orang tetap berdatangan, terutama karena jajanannya yang murah enak, juga sayuran segarnya yang tiap hari datang dari daerah Kopeng.
 
Nasi jagung dengan gudangan
Di daerah Jawa tengah, nasi jagung sebenarnya merupakan makanan pokok masyarakat yang tinggal di atas gunung, seperti Gunung  Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro. Dulu nasi jagung banyak dijual, tetapi kini masyarakat di sana hanya membuat untuk konsumsi sehari-hari.
 
Untunglah di Pasar Sapi masih tersisa seorang pedagang nasi jagung yang buka lapak di situ. Nampaknya keberadaan nasi jagung di Pasar Sapi ini sudah termasuk barang langka bagi masyarakat Salatiga. Kalaupun ada 1-2 pedagang lain, biasanya pedagang keliling. Tak heran jika penggemarnya cukup banyak.
 
Berbeda dengan nasi jagung dari Ambon, nasi jagung di pasar sapi meskipun disebut nasi tapi sebenarnya tak mengandung nasi dari beras sama sekali.
 
Nasi jagung adalah jagung yang telah ditumbuk  dan dimasak menjadi butiran halus dan rasanya tawar sehingga bisa dijadikan makanan pokok seperti nasi.
Ibu penjual nasi jagung sedang sibuk melayani pembeli
Ibu penjual nasi jagung sedang sibuk melayani pembeli
Seporsi nasi jagung terdiri dari nasi jagung, urap sayuran (biasa disebut gudangan), sambel rawit hijau nan pedas, dan rempeyek ikan asin. Urapnya terbuat dari sayuran hijau seperti daun pepaya, daun adas, daun kenikir, kuthi, ditambah dengan serutan pepaya muda.
 
Rasanya sungguh unik, campuran antara rasa tawar nasi jagung diimbangi pedasnya sambal rawit, rempeyek ikan asin yang asin gurih,  dan segarnya urap yang meninggalkan jejak sedikit rasa pahit. Tanpa terasa sebungkus pun tandas.
 
Mulai jam 6 pagi ibu penjual nasi jagung sudah mangkal tak jauh dari gerbang pasar dari arah Jl. Veteran, dan siap melayani para penggemar, hingga sekitar jam 10.00 atau sehabisnya dagangan.  
warung nasi gudeg koyor Ibu Sukini di Pasar Sapi
warung nasi gudeg koyor Ibu Sukini di Pasar Sapi
Gudeg koyor Miroso Ibu Sukini
Di bagian lain pasar, tak jauh dari gerbang pasar yang ada di Jl. Hasanudin, terdapat sebuah rumah makan kecil yang menyajikan menu gudeg koyor (koyor adalah bagian otot sapi).
 
Bagi banyak orang Salatiga, sayur tumpang koyor merupakan makanan khas paling favorit. Tak heran jika gudeg Ibu Sukini yang dimasak dengan daun singkong, dan disajikan dengan sambel goreng krecek yang sedikit pedas serta sayur tumpang berisi tahu dan koyor yang gurih dan empuk, juga sangat disukai di sini. Rasanya mantap, pas sekali dinikmati di pagi hari di kota yang sejuk ini. 
 
Masakan sambel tumpang memang tak hanya dikenal di Salatiga. Makanan ini dapat kita temukan mulai dari Semarang, Boyolali, Solo, hingga Jawa Timur. Tapi sambel tumpang khas Salatiga ini berbeda dengan sambel tumpang dari kota lain, karena dimasak dengan koyor yang empuk dan gurih.
 
Kuahnya terasa begitu gurih dengan aroma khas, sebagai hasil perpaduan dari kaldu sapi, santan, dan tempe yg fermentasinya dibiarkan terus berlanjut, tentunya diimbangi dengan pedasnya cabai rawit merah, dan wanginya daun jeruk. 
 
Sayur tumpang koyor ini bisa dinikmati dengan cara disiramkan langsung di atas bubur atau nasi putih. Bisa juga disajikan dengan tambahan sayuran rebus dan taburan serundeng. Atau bisa juga dinikmati bersama gudeg seperti di warung Bu Sukini ini dengan tambahan sambal goreng krecek yang agak pedas.
 
Warung makan milik Ibu Sukini sudah dikenal baik oleh warga setempat maupun oleh pendatang dari luar kota. Warung ini buka sejak jam 6 pagi hingga jam 5 sore. Tapi jika ingin menikmati gudeg dengan koyor, datanglah sebelum jam 10.00 karena koyor tidak banyak tersedia.  
Silakan pilih: gudeg dengan koyor atau gudeg dengan opor
Silakan pilih: gudeg dengan koyor atau gudeg dengan opor
Namun bila tak kebagian koyor, Anda juga tidak perlu terlalu kecewa karena masih bisa menyantap gudeg dengan opor ayam atau telur yang tak kalah lezat. Bagi yang suka, tersedia juga uritan atau telur muda.
 
Jajanan Jadul
Bubur Candil: Setelah selesai berbelanja, oleh oleh yang umumnya dibawa para Ibu untuk anaknya yang masih kecil biasanya adalah bubur Candil.
 
Penjualnya berada tepat di sebelah pedagang nasi jagung. Selain bubur candil tersedia juga bubur ubi dan bubur pacar cina. Terkadang juga ada bubur ketan hitam. Bila suka, kita juga boleh membeli campuran dari beberapa macam bubur.
 
Roti Ibu Djumeri:
Tepat di seberang pasar, di pinggir jalan Hasanudin, terdapat sebuah toko roti yang sudah beroperasi sejak tahun 1965. Produknya antara lain roti pisang, roti kelapa, roti kacang, roti tawar, pongge, bolu kering.
 
Roti di sini proses pembuatannya masih manual, memanggangnya pun kabarnya masih dengan oven kuno berbahan bakar kayu. Karena itu rotinya selalu baru, karena dibuat dalam jumlah terbatas atau sesuai pesanan saja. Rasa rotinya sejak jaman dahulu hingga sekarang hampir tak pernah berubah.
 
Tahu petis dan rolade daun singkong
Tahu petis dan rolade daun singkong
Rolade daun singkong: 
Kira-kira 100 meter dari gerbang pasar yang ada di Jalan Hasanudin menuju kopeng, ada penjual gorengan khas Salatiga, yaitu rolade. Rolade yang hangat ditemani cabai rawit sangat cocok sebagai camilan di sore hari.
 
Rolade ini terbuat dari daun singkong yang direbus hingga empuk lalu digulung bersama tahu putih yang dihaluskan dan dicampur kocokan telur. Selanjutnya dibumbui bawang putih serta merica, dikukus, dipotong-potong, diaduk dalam adonan tepung, kemudian digoreng.
 
Biasanya penjual rolade juga menjual tahu petis, tapi sayang sekali di sini tak tersedia tahu petis. Tahu petis Salatiga enak rasanya, tak kalah dengan tahu petis dari kota lain, petisnya kental karena diramu dengan tinta cumi.
 
Bubur tumpang koyor Mak Sabar:
Ingin makanan yang lebih mengenyangkan? di sekitar pasar juga tersedia bubur tumpang koyor Mak Sabar. Letaknya berlawanan arah dengan tukang gorengan. Dari perempatan depan pasar kira-kira 50 m menuju ke arah timur, sebelum gerbang utara Yonif 411 kostrad.
 
Bubur tumpang koyor ini terdiri dari bubur beras yang disajikan dengan sayuran rebus, disiram sayur tumpang yang berisi tahu goreng dan koyor, lalu diberi sedikit serundeng. Sayuran rebusnya yaitu daun singkong, daun pepaya, taoge, dan serutan pepaya muda. Warung tenda Mak Sabar biasanya hanya buka dari jam 6 sampai jam 8.30 atau jam 9 pagi.  
 
warung tenda Mak Sabar, menjual tumpang koyor dengan bubur atau nasi.
warung tenda Mak Sabar, menjual tumpang koyor dengan bubur atau nasi.

Sekedar informasi, tak jauh dari Tumpang Koyor Mak Sabar menuju ke arah Pasar Sapi, di seberang jalannya ada rumah makan milik Ibu Martini yang menjual makanan sehari-hari masyarakat Salatiga. Biasanya yang belanja di situ adalah ibu-ibu yang tidak sempat masak untuk dibawa pulang, tapi ada juga orang yang makan di tempat.

Kuliner malam di pasar sapi lama
Nasi goreng babat, iso, pete: Tepat pukul 6 sore, biasanya Mbak Ngatini bersama suaminya telah selesai mendirikan warung tendanya. Warungnya terletak di bagian depan pasar di pinggir Jl. Hasanuddin, tak jauh dari Rumah Makan Ibu Sukini. Warung makan Mbak Ngatini menyediakan nasi goreng babat, iso, pete dan bakmi goreng.

Seperti halnya di Semarang, di Salatiga, nasi goreng babat, iso, dan pete sangat populer. Dimana pun warung nasi seperti ini buka selalu ramai antriannya. Para pembeli begitu sabar mengantri meskipun harus menunggu lama. Begitu juga di warung Mbak Ngatini, datanglah segera setelah maghrib jika tak ingin menjalani antrian yang panjang dan mengular.

Warung nasi goreng Mbak Ngatini
Warung nasi goreng Mbak Ngatini

Sate Sapi: Persis di depan warung Mbak Ngatini ada seorang Bapak tua penjual sate sapi. Satenya sebenarnya enak, tapi sayang jumlah dagangannya hanya sedikit. Betul betul limited edition. Buka jam 6 sore, biasanya dagangannya sudah habis jam 7.30 atau jam 8 malam.   Cukup menarik bukan, kuliner di pasar sapi lama? (IN).

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *