Categories
wiskul

Kuliner Malam di Jembatan Merah Bogor

Pernah jalan-jalan ke Jembatan Merah Bogor? Jembatan bersejarah yang menghubungkan Jl Kapten Muslihat, Jl Merdeka, dan Jl Panaragan itu letaknya tidak terlalu jauh dari stasiun kereta api. Kita hanya perlu berjalan sebentar dari dalam stasiun Bogor, keluar melalui tangga yang menuju depan lapas, lalu berbalik ke arah Jl. Panaragan.

Dari jauh pun jembatan berwarna merah yang sudah ada sejak tahun 1800 itu bisa kita lihat. Warna jembatannya kini benar-benar merah, sesuai dengan namanya (jaman dulu pernah dicat kuning). Selain itu,  juga diperindah dengan pemasangan lampu gantung yang antik dan ada namanya sehingga memudahkan para pelancong mengingatnya.

Kita hanya perlu melintasi jembatan yang dibangun di atas sungai Cipakancilan itu sampai ke pusat pertokoan yang ada di dekatnya.  Nah, persis di depan Toko Terang, kita bisa menemukan makanan khas Bogor yang sudah mulai langka, yaitu Doclang.

Doclang adalah jajanan yang sederhana. Terdiri dari potongan ketupat, tahu, kentang, telur rebus, lalu disiram dengan bumbu kacang, diberi sambal dan taburan kerupuk. Ketika pertama melihat, yang menarik perhatian saya justru ketupatnya yang tampak berbeda dengan ketupat pada umumnya karena dibungkus dengan daun patat.

Rupanya daun patat ini memang salah satu bungkus makanan khas Bogor. Dengan dibungkus daun begini tentunya ketupatnya jadi lebih beraroma, dengan wangi dedaunan yang khas. Selain ketupat, toge goreng khas Bogor juga dibungkus dengan daun patat.

Rasa doclang, jika tidak memakai kentang menjadi agak mirip ketupat tahu. Hanya saja doclang ini  tidak memakai sayuran sama sekali. Kata penjualnya doclang berasal dari kalimat bumbu ledok nganggo kacang, yang artinya bumbu kental memakai kacang.

Doclang ini sebenarnya termasuk menu sarapan, seperti halnya ketoprak kalau di Jakarta. Namun di Jembatan Merah ini asyik, karena  pagi, siang, sore atau malam, doclang selalu tersedia setiap saat, penjualnya saja yang ganti.

Ternyata bukan hanya doclang saja yang buka terus menerus, bubur ayam yang ada di dekatnya pun demikian. Sementara pedagang yang lain baru mulai berjualan saat pusat pertokoan yang ada di situ tutup.

Jadi rupanya di malam hari kawasan ini berubah menjadi tempat wisata kuliner kecil-kecilan. Ketika saya melewati jembatan merah di suatu malam, ternyata jajanan di situ cukup lengkap. Selain doclang dan bubur ayam juga ada pempek, martabak, buah-buahan, cakwe, sate ayam, dll. IN

Doclang
Penampakan doclang siap santap
Tampilan gerobak penjual doclang
Tampilan gerobak penjual doclang
Bubur Ayam
Bubur Ayam Ajib
Bubur Ayam
Penampakan bubur ayam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *