Laksa Kacang Hijau, Asinan Lanjin dan Wisata Musium di Pasar Lama Tangerang

Jalan-Jalan ke Pasar Lama Tangerang

Pasar Lama Tangerang adalah salah satu pasar yang menarik. Selain terdapat berbagai kuliner enak yang bisa dicoba, pasar yang terletak di Jalan Cilame, Tangerang, Banten itu juga mempunyai museum yang menyimpan cerita tak kalah menariknya untuk ditelusuri.

DSC_0877small

DSC_0902small
DSC_0900small
Jam buka museum adalah jam 13.00. Karena tiba di pasar lama sekitar jam 11 siang, suasana pasar masih cukup ramai. Sambil melihat-lihat isi pasar, kami berjalan menyusuri pasar hingga tiba di Kelenteng Boen Tek Bio.

Tak jauh dari Kelenteng itulah, mulai terlihat kuliner enaknya. Bagi yang muslim sebaiknya berhati-hati jika ingin kulineran di dalam pasar ini, karena kuliner di sini banyak yang tidak halal. Mohon maaf, karena penulis seorang muslim, jadi yang akan dibahas hanya kuliner halalnya.

Ternyata yang menarik di pasar ini tidak hanya kulinernya saja, tapi di sana juga ada pabrik kecap yang telah beroperasi sejak jaman dahulu kala, dan tentunya juga sebuah museum … yang letaknya betul-betul di tengah pasar. Secara lengkap, inilah 6 hal menarik yang bisa kita temukan di sana:
DSC_0899small

1. Laksa Kacang Hijau

Jika kita masuk dari arah kelenteng Boen Tek Bio, posisi pedagang laksa ini terletak persis di dekat pintu masuk ke pasar. Laksa Kacang Hijau ini adalah laksa khas Benteng, Tangerang. Jenis laksanya berbeda sekali dengan laksa Bogor yang biasanya mengandung soun, udang, dan daun kemangi.

Laksa khas Tanggerang ini terdiri dari mie yang berwarna putih dan terbuat dari tepung beras. Kuahnya lebih encer, di dalamnya terdapat potongan kentang dan kacang hijau, sementara di bagian atas terdapat taburan potongan daun kucai.

Laksa ini bisa disantap dengan 2 pilihan lauk, yaitu telur dan ayam kampung. Sayang sekali tempat duduk yang tersedia di situ sangat terbatas, sehingga tak banyak orang yang bisa duduk sambil makan laksa di pasar ini, maka siapa cepat dia yang dapat ….

2. Asinan Lan Jin

DSC_0925small

Kabarnya asinan ini termasuk kuliner legendaris dan sudah terkenal di Tangerang. Letak penjualnya tak jauh dari penjual laksa. Asinannya terdiri dari asinan sayur dan asinan buah. Jika Anda penggemar asinan, tentu tidak akan melewatkan asinan ini.

Rasanya segar, manis dan asam, juga gurih karena taburan kacang goreng …. yang pasti bagi penggemar asinan, rasanya cocok di lidah, terutama asinan sayurnya.

Agak mirip dengan asinan gang aut Bogor. Isi asinannya terdiri dari tauge, kol, lobak, timun, sayur asin, dan wortel. Tentunya ditambah dengan taburan kacang tanah goreng dan irisan tahu kuning.

3. Kuliner di depan Pasar Lama

DSC_0895smallDSC_0906smallDSC_0905smallDSC_0908small

Dari tempat asinan, kami pun keluar area pasar. Di depan pasar ternyata kami juga menemukan beberapa makanan dan minuman yang menarik, mulai dari otak-otak, soto, es podeng, dan es campur. Semuanya maknyus .. pantas saja tempat itu nampaknya selalu ramai dengan pengunjung.

Bagi Anda yang muslim, sepertinya paling aman makan di depan pasar ini, karena di sini tersedia lebih banyak makanan yang halal dan enak.

4. Kecap Benteng

DSC_0911small

DSC_0891small

Tak jauh dari pasar, terdapat pabrik kecap yang masih diproduksi secara tradisional, yaitu pabrik kecap SH. Kecap ini telah diproduksi sejak tahun 1920.

Di dekat area pasar ternyata ada lebih dari satu pabrik kecap yang masih berproduksi dengan cara tradisional dan tanpa menggunakan bahan pengawet. Pabrik kecap lain yang juga terletak tak jauh dari pasar lama yaitu Teng Giok Seng yang memproduksi kecap merek Istana sejak 1882. S

Sayang saat itu sudah terlalu siang. Jadi sudah tidak bisa melihat proses produksi kecap di situ. Tapi setidaknya kami sudah mendapatkan kecap merek SH sebagai oleh-oleh.

5. Museum Benteng Heritage

Teras depan Museum Benteng Heritage
Teras depan Museum Benteng Heritage

Tepat pukul 13.00, Museum Benteng Heritage pun buka. Museum itu tadinya tidak terlihat karena tertutup oleh para pedagang dan dagangannya, setelah jam 13.00 dan pasar menjadi sepi, mulailah museum beroperasi.

Para pengunjung bolah masuk setelah membayar biaya tanda masuk dan segera mengagumi interiornya yang unik. Seorang guide mengantarkan ke dalam dan menjelaskan seluruh isi museum.

Museum ini merupakan hasil restorasi dari sebuah bangunan tua berarsitektur tradisional Tionghoa yang diduga dibangun pada pertengahan abad ke 17. Letaknya di Jl. Cilame no.20, Pasar Lama, Tangerang, dan merupakan salah satu bangunan tertua di Tangerang.

Bagian dalam museum di lantai satu
Bagian dalam museum di lantai satu

Museum yang merupakan milik pribadi Udaya Halim ini terdiri dari dua lantai, lantai satu museum dijadikan sebagai restoran, tempat gathering, juga tempat penjualan buku dan suvenir lainnya.

Jadi bagi yang ingin pergi berombongan ke sana, bisa memesan tempat di lantai ini lengkap dengan aneka kuliner peranakan Tionghoa Benteng yang spesial dan halal. Di sini kami duduk bersama dan mendengarkan cerita tentang sejarah Benteng Tangerang.

Tangerang memang salah satu daerah di Indonesia di mana etnis Tionghoa tumbuh dan berkembang. Tionghoa di daerah ini lazim disebut sebagai Tionghoa Benteng.

Tempat membeli tiket masuk
Tempat membeli tiket masuk

Kisahnya berawal dari kedatangan armada Cheng Ho dengan rombongan yang terdiri dari sekitar 300 kapal Jung besar dan kecil dengan membawa 30.000 pengikutnya.

Sebagian dari rombongan ini dipimpin oleh Chen Ci Lung yang diyakini sebagai nenek moyang penduduk Tionghoa Tanggerang (Cina Benteng) yang mendarat di Teluk Naga pada tahun 1407. Begitulah sekilas sejarah Tionghoa Benteng.

Sedangkan di lantai 2 museum kita bisa melihat berbagai barang antik koleksi museum. Koleksi itu berupa benda-benda kuno yang berhubungan dengan sejarah etnis Tionghoa.

Contoh barang antiknya adalah baju pengantin Tionghoa Benteng, kain-kain kuno dan kebaya encim, sepatu kecil yang jaman dulu dipakai membentuk wanita Tionghoa menjadi sangat kecil, alat musik, kamera tua, hingga timbangan opium dan permainan mahjong. Sayang sekali kita tidak diperbolehkan mengambil foto di lantai ini.

Suvenir museum, bumbu masakan
Suvenir museum, bumbu masakan

Namun berdiri di lantai ini dan melihat ke sekeliling, rasanya malah jadi ingat pemandangan di film-film Triad. Hal yang menarik di sini adalah relief kuno yang berwarna-warni dan indah. Konon relief ini merupakan peninggalan dari abad ke 18 dan merupakan penggalan dari cerita The Three Kingdom.

Hal menarik lainnya adalah pintu kayu menuju ke bagian depan yang dikunci dengan cara kuno. Herannya, ternyata tidak mudah menemukan cara membukanya meskipun sudah meraba-raba dan mengutak-atik lebih dari 20 menit.

6. Sate Haji Ishak

DSC_0927small

Keluar dari museum ternyata hari sudah hampir gelap. Di luar pasar, tenda-tenda yang menyediakan kuliner yang biasa dijajakan malam hari sudah mulai digelar. Salah satunya adalah Sate Haji Ishak. sate ini juga cukup terkenal dan selalu dicari oleh penggemarnya. Jadi bila belum ingin pulang, Anda masih bisa melanjutkan wisata kuliner di sini (IN).

Incoming search terms:

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *